Jumat, 19 November 2021

Aku Disusui Maduku Part : 3

Hari pertama kang Arman kerja, aku sendiri yang melayaninya, bajunya sudah ku seterika rapi, kumisnya yang panjang hampir masuk bibirnya aku rapikan dengan gunting dan sengaja kemarin aku ambil duit ku di ATM 500 ribu untuk beli sepatu dan celana bahan untuk kang Arman, tak lupa aku selipkan dikantong kang Arman uang tiga puluh ribu untuk kang Arman beli bensin dan makan siang.
Kang Arman tertawa, "air minum pake botol mana dek, biar lengkap juga kotak kue kayak anak tk," katanya menggodaku.

"Hehe..akang mah gitu, kan aku bekali jajan siapa tahu nanti perlu nambal ban, atau makan siang kang." kataku sambil tersenyum.

"Duh, biniku perhatian amat, doakan akang sukses ya dek," katanya sambil mencium keningku

"Ya kang, doaku selau untuk akang ," kataku sambil mengikuti langkahnya keluar rumah.

"Hihi..bunda dan ayah lebai pakai cium-cium dan cubit-cubitan kata anakku, sambil tertawa.
Kami tersenyum melihat Hesti yang tiba-tiba muncul dan sudah siap dengan pakaian sekolahnya.
"Nah Hesti mulai hari ini kesekolah diantar Ayah ya, karena sekarang ayah sudah mulai kerja dan sekolah Hesti searah dengan Ayah."
Aku memberitahukan anakku.

"Asiik Ayah sudah kerja, nanti kalau Ayah sudah gajian beliin Hesti sepatu baru ya,ayah."
Hesti menatap wajah kan Arman.

"Iya sayang nanti ayah beliin juga mobil untuk kita pergi tamasyah." kang Arman bercanda.

""Aamiin ya Allah," Hesti merespon guyonan Ayahnya.

"Sudah nak, itu ayah sudah diatas motor, pergilan jangan sampai kamu dan terlambat."
Aku mellihat kang Arman sudah diatas motor kami yang masih kredit.

"Berangkat ya dek, eh siapa yang antar kembar sekolah dek." kang Arman ingat sikembar yang kelas dua sd juga perlu diantar.

"Aman kang ,nanti aku yang antar naik angkot sekalian kepasar beli bahan dagangan ."
Aku menerangkan.

"Oke,siip ,akang berangkat ya."

"Ya kang hati-hati ya dijalan."
"Ya Allah lindungi anak dan suamiku pergi dan pulang, aamiin."doa ku lirih.

Aku masuk kedalam rumah dan melihat sikembar sudah siap dengan seragam sekolah,
"Ana,Ani yook berangkat nanti telat.
"Ya Bun." Hampir serempak mereka menjawab.

Aku membimbing kedua anakku ke halte menunggu angkot,
"Loh bun, kok naik angkot motor kita mana?," Ani protes

"Motor kita dibawak Ayah kerja, mulai sekarang kita naik angkot ya," kataku.

"Benar bun,ayah sudah kerja asik dong ntar lagi ayah gajian kita beli motor baru ya bun," Ana bicara lugu.

"Doakan saja ayah ada rejeki ya nak ," kataku menjawab harapan Ana.
Kami sampai dihalte dan naik angkot, kulihat ana dan Ani seperti tidak semangat naik angkot munkin tidak suka desak-desakan, karna selama ini mereka aku yang antar, pakai motor kami, sedang Hesti sering jalan kaki bareng teman-temannya.

******

  Jam enam sore kang Arman pulang, akun yang lagi nyiapin dagangan kami, lansung menyambut kang Arman yang turun dari motor lansung senyum-senyum.
"Dih..akang capek ya, tapi kelihatan senang banget," aku menggoda kang Arman sambil menyeduh kopi susu minumannya tiap sore.

"Akang tadi diterening oleh pak Hamid dek, masih dibimbing oleh beliau, dua bulan lagi pak Hamid pindah jadi suvervisor, akang yang jadi kepala gudang dek." Kang Arman berkata ringan sambil tersenyum.

"Wah..bagus kang, tentu gajinya nanti gede," aku jadi bahagia juga.

"Ya dek, nanti kalau gaji akang sudah gede kita tidak usah dagang lagi ya dek,biar Wisnu dan istrinya Entin yang nerusin."

"Aamiin kang yang penting kerja yang jujur dan tekun juga rajin," kataku mengingatkan.

"Ya dek, akang mau mandi dan Sholat Magrib dulu ya."

"Horree..ayah pulang ",anakku Ana dan Ani menyambut Ayahya dan ,sibungsu pun mengejar Ayahnya dan kang Arman menyambut pelukan Ana dan Ani dan menggendong si bungsu.
Aku merasa sangat bahagia punya keluarga kecil dengan anak-anak yang lucu-lucu.

Sudah magrib, aku dan Kang Arman kembali membawa dagangan kami dengan menggunakan gerobak teman sejati kami, kang Arman mendorongnya dan aku membawa keranjang yang isi kerupuk-kerupuk dan kopi-kopi instan Sesetan.
Sungguh kami merasa bahagia, kang Arman sangat sayang padaku terutama dengan anak-anak.
Kalau aku sibuk meracik makanan, kang Arman akan menjaga sibungsu dan menolong ana dan Ani juga Hesti untuk membuat pekerjaan rumah.
Satu lagi kang Arman orangnya lembut, tak pernah berkata kasar padaku dan selalu sopan pada Ibu dan Ayahku.
Dia selalu membantu kerjaan aku, tak jarang kalau aku keletihan kang Arman mencuci pakaian kami dan Hesti yang disuruhnya untuk menjemur pakaian.
Pernah aku melarang kang Arman untuk tidak menyuruh Hesti untuk bantu kerja, tapi kang Arman selalu bilang,
"Hesti jangan dimanjain dek, dia sudah pantas diajarin kerja yang ringan biar bisa membantu kita, kan lucu nanti dia sudah nikah tidak bisa kerja."
Hehe..kang Arman sudah kepikir masa depan anak-anak kami.
I love you kang Arman, walau kita hidup susah ,tapi hati kita tidak boleh susah, kata-kata yang banyak maknanya dari kang Arman.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar