Jumat, 19 November 2021

Aku Disusui Maduku Part : 2

Malam itu kembali bunda cantik itu datang  membeli dagangan kami, sudah hampir satu bulan ini dia rajin membeli makanan kami dengn menu yang berganti-ganti katanya bumbu yang kubuat sangat sesuai dengan seleranya dan dia juga suka dengan olahan gorengan kan Arman dan juga bakaran ayam atau bebeknya, mantap sesuai juga dengan selerah dia, tak kalah dengan rasa masakan chef ternama.
  "Selain dagang kang Arman kerja dimana ya mbak".kata bunda itu.

"Oh, kang Arman gak kerja bun, dulu kerja di salah satu pabrik, tapi karena keadaan perusahaan sedang pailit, akhirnya kang Arman di phk dan uang PHK nya kami buat usaha ini" kataku tanpa malu-malu karena merasa sudah kenal dengan bunda cantik ini.

"Kalau kang Arman mau kerja ditempat saya, besok temui saya disini ya mbak." Katanya sambil menyodorkan kartu nama.

Aku mengambil kartu nama itu dan membaca nya

PT.Export Import Jaya Mustika
Mrs.Linnawati Wardhani
General Manager

Aku kaget, mataku membulat kagum, bunda ini namanya Linna seorang GM diperusahaan Export Impor bahan pakaian, dengan rendah hati tiap malam membeli dagangan kami tanpa sungkan duduk dilapak kami yang hanya beratapkan plastik tenda dan kalau hujan kadang merembes airnya.
Ckckck aku berdecak kagum, melihat kepadanya.
Dia tersenyum, ternyata kang Arman heran melihat tingkahku dia lansung mendekati aku sambil membawa pesanan bu Linna,
"Ada apa dek katanya."

"Ini mas, mungkin ini anugerah Tuhan pada kita melalui bunda ini." Kataku sambil mberikan kartu nama Bu Linna ke kang Arman.

Kang Arman membaca sejenak dan menoleh ke Ibu Linna benarkah ini bunda, saya boleh kesini besok."

Bunda Linna tersenyum sangat manis yang perasaanku dia berubah jadi bidadari yang sangat cantik, "ya besok datang saja jam 10 pagi temui saya dikantor itu, bilang ke satpam ,kang Arman tamu saya, oke saya permisi."

"Ya bu, trimakasih," aku mencium tangan Bu Linna karena terlalu senangnya.
Dan Bu Linnapun pergi dengan mobilnya yang di bawak oleh sopirnya.

Seperginya Bu Linna, aku menangis haru dan tak henti mengucap syukur pada Allah, yang mengantarkan Bu Linna ketempat kami.
Namun kang Arman nampaknya ragu,
"Jangan-jangan ini alamat palsu dek, takutnya besok akang kesana ternyata tidak ada namanya Bu Linna, kan jadi malu dek."

"Tidak mungkin, bu Linna bohong kang, lagian untuk apa dia bohongi kita apa untungnya, baiknya besok akang kesana kalau tidak ada yang kenal sama bu Linna ya, akang pulang nerusin jadi karyawan dialam mimpi," aku ketawa mencandai kang Arman.

"Kamu dik, suka bercanda aja." kata kang Arman sambil mencolek pipiku mesrah.

Dan kami pun sibuk kembali melayani pembeli, sampai jam sepuluh malam, jadwal kerjaku selesai dan aku pulang dengan diantar adik ipar ku Wisnu yang menggantikan aku nemanin  kang Arman sampai jam dua subuh.
Malam itu rejeki berpihak kami, lepas jam 12 malam dagangan kami sudah habis dan kang Arman dan Wisnu pun pulang.

Besoknya pukul delapan pagi, kang Arman sudah siap diatas sepeda motornya dengan pakaian rapi dan sepatu fentopel, aku menyuruh kang  Arman bergaya biar tidak menimbulkan kesan rendah bagi Bu Linna dan karyawan kantor Bu Linna.

****
Kang Arman diterima kerja.

Hampir pukul jam tiga sore, kang Arman pulang sampai dirumah, dia mencium keningku, sinar kegembiraan terpancar diwajahnya, aku pun ikut merasa senang.
"Bagaimana kang, apa bertemu dengan Bu Linna," aku jadi penasaran.

"Tadi sampai disana, jam 9 pas akang lansung nemui satpam, akang tunjukan kartu nama Bu Linna dan bilang akang tamu Bu Linna, akang disuruh nemui Bu Linna ke tingkat  lima, disana akang nunggu Bu Linna lagi rapat jadi tidak bisa bertemu tapi Bu Linna ada pesan sama personalia dan akang lansung dipanggil personalia sesuai pesan Bu Lina akang di tempatkan dibagian gudang, mengawasi masuk dan keluar barang, tapi akang masa treaning dulu selama tiga bulan dengan gaji harian 100 ribu perhari, nanti klau akang sudah jadi karyawan tetap baru ada UMR dan hitung lembur."
Kang Arman bercerita dengan semangat sambil menyendok nasi kemulutnya, kelihatan sekali suamiku ini kelaparan.

"Lantas kalau akang sudah kerja ,kang Arman masih mau kan nemanin Eneng dagang," kataku memancing kang Arman.
."La iyalah, akang kan kepala rumah tangga, tapi klau gaji akang sudah lebih sepuluh juta, kita tidak buka usaha disana lagi, kita buka restoran ya dek, yang kerja nya orang lain, kita ambil untungnya aja." Kang Arman semakin optimis.
"Aamiin semoga ini awal yang baik ya kang." Kataku sambil mengambilkan kang Arman segelas air minum.
Dan kang Arman meminumnya sampai habis.
Tidak begitu lama kang Arman pun sudah mendengkur dikursi tamu kami, memang itulah kebiasaan kang Arman sejak dia kena PHK dua tahun yang lalu.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar