Sabtu, 20 November 2021

Aku Disusui Maduku Part : 7

Saya janda kaya itu pemilik perusahaan Export Import textil.
Waktu itu saya baru saja ditinggal suami meninggal dunia, kecelakaan pesawat waktu mau pulang dari Hongkong ke Tanah air.
Keadaan saya yang sempat down sempat hilang semangat hidup, selama ini saya  hanya jadi nyonya besar karena yang mengurus seluruh perusahaannya adalah suami saya pak Darmawan.

Anak-Anaknya saya masih kecil Risa anak tertua baru kelas tiga SMP dan anak kedua Romi baru kelas enam SD, sedang saya sendiri hanya anak tunggal dari orang tua saya yang kaya raya.
Dan kekayaan mereka bukan dari hasil jerih payah saya dan suami tapi dari warisan orang tua saya.

     Suami saya ,pak Darmawan mempunyai keluarga yang banyak dan hampir rata-rata kerja di perusahaan kami.
Saya yang selama ini mempercayai sepenuhnya perusahaan pada suami saya menjadi shok, saya yang tak pernah siap akan keadaan ini akhirnya harus turun tangan kembali mengurus beberapa buah perusahaannya.
Suami saya pak Darmawan lelaki yang lembut dan sabar, saya bagaikan Kristal bagi Pak Darmawan, barang mewah yang harus selalu dipegang hati-hati.

      Sejak kematian pak Darmawan, saya yang dianggap wanita yang manja yang tidak bisa apa-apa dimata keluarga pak Darmawan, mulai menyadari kalau keluarga suaminya itu ingin menguasai perusahaan saya.
Dan dia sebagai pemilik perusahaan sering hanya dijadikan sebagai pajangan tanpa boleh melakukan tindakan apa-apa oleh keluarga pak Darmawan.

      Saya yang sempat  sepuluh tahun facum dari perusahaan, mencium adanya penggelapan dan kesewenangan pemakaian keuangan yang tidak diketahui mengalir kemana.
Bahkan pernah saya dengar ada satu anak cabang perusahaan yang akan dikatakan bangkrut dan akan ditutup kemudian akan diambil ahli oleh Adiknya pak Darmawan.
Sedangkan dibagian Logistik banyak barang-barang hilang yang tidak diketahui kemana.
     Dari laporan-laporan orang-orang dekat saya keluarga pak Darmawan yang terdiri dari kakaknya pak Darmawan, adik kedua Pak Darmawan dan  saudara ipar pak Darmawan semua bermain dalam perdagangan mereka.
Saya tahu mereka sekarang jadi orang kaya karena bantuan almarhum suami saya.
Mereka bukanlah orang kaya, pak Darmawan sendiri dulunya hanya tenaga admin diperusahaan ketika papa saya masih
memegang perusahaan.

    Karena pak Darmawan orangnya pintar dan jujur saya yang masih gadis jadi sangat tertarik pada pak Darmawan.
Cinta kami disetujui orang tuanya dan tidak sampai empat bulan pacaran merekapun menikah.
       Pernikahan di salah satu hotel yang sangat mewah.
Dan pernikahan itu pula yang mengangkat derajat pak Darmawan menjadi seorang pengusaha kaya.
Pak Darmawan pintar memenegemen perusahaan dan perusahaan maju pesat dibawah pengelolaan suami saya pak Darmawan.

      Satu Minggu setelah kematian suami saya, saya mulai kembali memimpin perusahaannya.
Dan saudara pak Darmawan seakan menyimpan sesuatu dari saya.
Saya yang seorang anak tunggal memang tak ada tempat untuk curhat atau pun diskusi untuk penanganan perusahaan.
Hari-hari saya seakan gelap, saya seakan mati diatas tumpukan gula yang semakin bnyak dikerubuti semut.
Suami saya selalu dihati bahkan saya merasa suami saya masih menemani saya kemana pun berada.

     Sampai suatu malam sopir pribadi saya kelaparan pergi mencari makan kelapangan kuliner dan tanpa sengaja masuk kelapaknya Murni dan Kang Arman.
Di sana pak sopir melihat kang Arman yang ganteng hidung mancung tubuh atletis sangat mirip dengan  pak Darmawan suami saya.
Dia melihat kang Arman benar-benar bagai reinkarnasi pak Darmawan, apalagi gaya bicaranya lembut dan sopan dan cara kang Arman berjalan tidak bedah dengan pak  Darmawan.

      Pak sopir membeli lima paket pecel lele pada Murni dan yang mengerjakannya adalah kang Arman, diam-diam pak sopir memvideokan kegiatan kang Arman dan juga mem fotonya.
Setelah pulang dia menceritakan pada istrinya dan memperlihatkan pada bik Nunik istrinya yang jadi  asisten rumah tangga Bu Linna.
  Ketika dia melihat Bu Linna sedang dikamar sendiri Bu Nunik cerita sama saya dan memperlihatkan Poto kang Arman pada majikannya.
Saya benar-benar kaget, jiwa suami saya benar-benar hidup ditubuh kang Arman cuma bedah umur, suaminya hampir lima puluhan, sedang kang Arman masih muda sekita 35 tahunan.

     Sore itu saya pulang dari kantor lansung minta di tunjukkan tempatnya sama pak sopir dan pak sopir menunjukan lapak kang Arman.
Hati saya berdetak kencang ketika dia masuk ke lapak kang Arman dan lelaki itu sedang mempersiapkan pesanan pelanggan dengan sigap, gayanya bicara kumisnya dan rambutnya benar-benar duplikat suami saya.
Dan gaya dia memasak persis seperti pak Darmawan memasakkan makanan untuk saya , kalau saya kumat manjanya minta dimasakin ayam goreng oleh suami saya dan suami saya tak pernah menolak pemintaan saya.
Dan saya  juga bisa melihat kang Arman adalah lelaki pintar yang bisa diajak kerja sama.
Malam itu saya diam-diam  memperhatikan gerak-gerik dan wajah kang Arman, rindu saya pada suami saya seketika terobati.

      Sejak malam itu, saya merasa jiwa saya hidup kembali semangatnya berkobar kembali saya harus bangkit bukankah masih ada Allah turunkan obat rindunya pada Almarhum melalui jiwa yang lain, yaitu Arman.
Dan saya yakin pertemuan saya  dengan kang Arman adalah kehendak Allah, walau pun kang Arman sudah punya tanggungan seorang istri dan empat orang anak.
Dan saya berharap kalau nanti satu saat terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi pada diri saya ,saya yakin kang Arman adalah orang yang tepat untuk dia menitipkan anak dan harta bendanya.

    Tapi saya tidak mau tergesa-gesa karena kang Arman milik orang, yang rumah tangganya adem ayem, selama satu bulan saya sengaja memantau lansung keadaan kang Arman dan istrinya.
Menurut saya ,istri kang Arman seorang wanita gigih yang cerdas dan wanita ini begitu penurut sama suaminya.
Menurut ilmu psikologi yang pernah dia pelajari istri kang Arman termasuk seorang yang bersikap sanguinis yang mana sipatnya cinta damai, tak mau mempersoalkan sesuatu yang bersifat merugikan dirinya.
Dia akan selalu tenang dengan kedamaian hidupnya penuh canda untuk menyenangkan orang lain.

    Dan kang Arman seorang yang plegmatis sikap yang mementingkan perasaan orang dan orang yang punya sikap seperti ini tidak akan pernah mau menyakiti perasaan orang.
Lawan dari egoistis yang mau menang sendiri.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar