Sabtu, 20 November 2021

Aku Disusui Maduku Part : 5

Setelah kami puas belanja semua kebutuhan kami, dengan memakai troli kami membayar kekasir, lumayan banyak hampir 25 jutaan kami belanja, Aku membuka tas kecilku yang tadi aku isi duit satu gepok atau sepuluh jutaan.
Aku cemas karena jelas itu tidak cukup.
Aku memandang kang Arman, aku lihat reaksinya tenang-tenang saja.
Aduh aku pasti malu,karna duitku hanya 10 juta dan 300 ribu, salah aku kenapa tidak menulis dulu yang akan dibeli jadi belanjanya terencana.
Aku deg-degan,
"Ini bu, bapak jumlah semuanya, cas apa credit card atau debet ", kasir memberi tahu jumlahnya pada kami, Dua Puluh lima juta seratus dua puluh ribu rupiah."

Ambyaar..aku memandang kang Arman.
"Bayarlah dek, kang tadi sudah akang kasih uang ke adek Mur."
Aku kageet, berbisik pada kang Arman,
"Kang Eneng cuma bawak uang sepuluh juta". Aku memandang reaksi kang Arman.

"Oh kenapa tidak dibawak empat atau lima gepok dek." katanya sambil merogoh dompetnya.
Aku melihat dompetnya tipis, palingan lima ratus ribuan dalam dompetnya, aku menyesal karena kebayang kami akan malu di mall itu.
Kang Arman mengeluarkan sehelai kartu warna Gold, dan memberikan pada kasir.
"Ini mbak ,katanya sama kasir."

"Oke pak..pake kredit kart yang unlimited ya pak.."

"Hheeeh..," kang Arman tertawa.
Aku jadi serba salah, antara kagum ,tak percaya dan curiga.
Kang Arman belanja pake kartu kridit unlimited dari BANK terbesar di Asia, ya Allah berapa tagihannya nanti, berapa sebenarnya gaji suamiku, sampai punya kartu kridit tanpa batas untuk kaum Sultan, namun sebagai istri yang selalu mensyukuri rejeki aku hanya diam dan bersyukur karena kami tidak jadi malu-maluin diri sendiri.
   Kang Arman membawa belanjaan kami pakai troli, "Kita beli handpone android canggi dek, untuk akang satu dan dek Mur satu," katanya.
Aku cemberut, curiga.
"Akang harus jujur, itu kartu yang bayar tagihannya siapa, kalau akang gak jujur ,Eneng gak mau beli handpone , Eneng gak mau nanti akang terjerat hutang."

"Ele..ele..bundanya Hesti, mulai curiga, yang bayar ya akang lah ,kata ibu bos bulan depan gaji akang naik lagi, karena kerja akang bagus."
Dia memeluk pundakku.

   Aku legah, ternyata rejeki Memang lagi berpihak pada kami.
Kami berdua mendorong troli, si Ridho kami naikkan ke atas troli, Ridho tertawa senang begitu juga dengan Hesti dan sikembar Ana dan Ani.
Kami naik ke tingkat tiga mall dan mencari handpone canggi yang aku tak pernah membayangkannya memakai Handpone itu.
"Itu dek, cocok untuk dek Mur, keluaran terbaru canggih kamera nya empat."
Kang Arman menunjuk salah satu gawai merek tulisan Jawa (hayo Oppo,tebak).
Pelayan counter mendekat,
"Malam, ibu , bapak perlu merek apa, kami lengkap semua merek handpone."

"Itu mbak seri terbaru untuk istri saya yang cantik ini."

"Horree..Ayah beli handpone canggih, Hesti juga ya Ayah, Hesti mau main tik*** kaya teman Hesti , Janna dan Nurul."

"Eeh..anak kecil gak boleh pake handpone ," kataku pada disulung.

"Kalau kak Hesti beli, aku juga mau kata si Anni."
"Aku juga Bun," si Anna , waduh kepalaku jadi mumet.

"Tenang,tenang anak-anakku kita beli dulu yang Ayah dan bunda, ntar sisanya baru kita beli untuk kalian."

"Assiik...janji ya Ayah." Hesti tersenyum.

"Oke". Kang Arman mengancungkan jempol pada anak-anak.

"Adek mau beli lobotan aja, yang gede yang ada lampu dan bica bicala," kata Ridho.

"Oke bos, siap ." Kata kang Arman.

Kami jadi membeli dua handpone adroid yang untukku seharga lima jutaan, dan kang Arman yang harga delapan jutaan.
Semua kang Arman bayar pake credit card.

Setelah makan kamipun pulang, tak lupa membeli robotan yang diminta Ridho.
Namun aku mulai curiga, kok suamiku jadi banyak duit padahal dia cuma kepala gudang yang termasuk baru.
Atau jangan-jangan suamiku korupsi, rasa yang mengganjal itu akan aku tanyakan nanti dikamar.
Begitulah rencana aku, dan kami pun pulang denga rasa puas pertama kali memborong dengan cara orang kaya.

***

       "Kang Eneng kok masih penasaran, si akang dapat duit darimana the."

Kang Arman menarik kepalaku kepelukannya.
"Dek Mur tidak usah curiga sama akang ya, itu semua rejeki halal, bukan akang korupsi bukan pula menipu, itu murni hasil kerja akang, sejak kita menikah akang sudah bertekad membahagiakan dek Mur, sabagai Istri akang dan anak-anak akang, walau nyawa sekalipun taruhannya. Dek Mur harus tetap ibadah,jangan sombong, inilah saatnya kita memetik hasil dari kesabaran kita." Akang menenangkan aku dengan penuh kesabaran.
Aku menangis mencium tangan kang Arman minta maaf karena sudah berpikiran negatip sama kang Arman.
Kang Arman tersenyum sambil memeluk aku dan dengan gaya canda dia berbisik.
"Dek Mur sekarang sudah wangi, gak bau bumbu lagi ,akang kangen terus." tangan nya mulai beraksi.
"Aah...akang sekarang sudah pandai merayu."
Aku merasa sangat bahagia,punya suami yang romantis.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar