Sabtu, 20 November 2021

Aku Disusui Maduku Part : 11

Pov :Murni

🏵️🏵️🏵️

    Prolog :
 Cinta adalah sesuatu yang sakral dan suci, klau cinta itu ternoda bukan karena cintanya yang salah, namun manusia yang jadi perantaranyalah yang bermasalah.
**********

    Hari-hariku dan anak-anakku bagaikan hari-hari penuh bunga, sebagai istri aku sangat bahagia mempunyai suami kang Arman yang sangat perhatian sama keluarga.
     Aku tak pernah lagi kekurangan uang, ATM kang Arman semua aku yang pegang dan kang Arman tak pernah bertanya berapa sebulan aku pakai uang dan apa aja yang aku beli.
Aku juga sudah bergaul dengan Ibu-ibu komplek dan ikut kegiatan mereka, dari senam bersama setiap pagi Jumat, disambung Majelis Taklim siang sesudah Jumat, pengajian ke ustad ternama, sampai tiap Minggu arisan dan macam-macam kegiatan yang lain.
Kang Arman sudah menjadi Kepala Keuangan dikantor Bu Linna, aku gak tahu kenapa dalam dua tahun karier kang Arman begitu pesat.

    Bulan kemarin kang Arman memberikan sertifikat rumah yang kami tempati padaku, kata kang Arman ini rumah dia beli pada Bu Linna.
Aku tak pernah shuhudzon pada suamiku, karena ku yakin kang Arman tak pernah kemana mana,kecuali tugas luar sama Bu Linna dan Diana sekretarisnya Diana.

   Dengan uang ditangan aku bisa membahagiakan ibu mertuaku, aku selalu memperhatikan kesehatan beliau, makanan dan vitamin tak pernah lupa kuberikan pada Ibu mertuaku.

  Juga untuk Ibu dan Bapakku dikampung, aku membelikan mereka ternak dan sawah yang luas.
Kambing ku sudah ada 50 ekor, kata bapak sehat semua dan sudah banyak juga anaknya.
Pokoknya aku mempersiapkan itu untuk jaga-jaga kalau nanti suatu saat suamiku tak bekerja lagi kami ada modal untuk hidup.

   Suamiku kang Arman juga mendorong aku untuk ikut kursus bisnis dan juga seminar-seminar kewanitaan.
Anak- anak ada yang antar jemput sekolah.
Pak Juki, sepupu jauh dari kampung yang aku percaya mengantar jemput anak-anak, sebagai suami kang Arman benar-benar ingin aku dan anak-anak maju dan pintar.
Pokoknya aku merasa jadi seorang tuan putri.

#Bisik_bisik_tetangga

    Hari minggu pagi ibu-ibu komplek perumahan kami ikut acara care free day di monas, suamiku malam ini tidak pulang, katanya mau ke Palembang tiga hari jadi Selasa dia pulang.
Aku semalaman sakit kepala karena tensiku agak kurang karena lagi dapet tamu bulanan.
Aku di chat Bu Nita,
[cepetan mbak ini sudah hampir setengah enam loh].

[Maaf,bu, saya gak ikut ini kepala sakit,kurang darah].

[Oya, Bu cepat sembuh ya].

[Trimakasih, Bu met week end ya].

[🥰]

Dan aku pun kembali istirahat setela minum obat dan sarapan.
    Keadaan berjalan seperti biasa, aku dan anak-anakku tak pernah merasa curiga sama kang Arman.
Sudah berjalan lima tahun keadaan kami menjadi [OKB], namun kami tidak pernah pelit baik sama keluarga atau tetangga kami.

     Namun ada yang berubah sama ibu-ibu komplek yang biasanya kalau aku datang mereka yang biasanya bergurau ketawa , tapi ketika ku datang sering mereka berhenti dan mengalihkan pembicaraan.
Sering aku ingin bertanya tapi mereka hanya diam dan bilang,
"Ah..Ndak apa-apa kok mbak, biasa aja mak-mak, kang Arman mana mbak, kerja ya".

     Aku hanya menjawab datar, tapi dalam hati juga curiga, ada apa dengan emak-emak ini, seperti tahu sesuatu tentang kang Arman.
Tapi ku tepis perasaan karena kupikir mak- mak memang sering keppo dengan tetangga lain.

    Suatu pagi, aku kesiangan menunggu mamang sayur yang biasa jam 7 pagi sudah nongkrong didepan rumahku, tapi pagi itu aku terlambat keluar, hingga mamang sayurnya pergi dan biasanya jam segitu nongkrong didepan pagar Bu Elli.
Benar saja, tapi mak- mak disana lagi ngerumpi .
"Benar loh Bu, kang Arman suaminya mbak Mur itu ternyata suaminya Bu Linna, yang punya rumah itu dulu, yang katanya bosnya kang Arman." Terdengar suara Bu Mini.

"Ah..ibu tahu darimana, jangan pitnah dosa." suara Tante Irma.

"Oh waktu itu Bu Irma gak ikut ya, waktu care free day, ada kok kang Arman sama Bu Linna ikut senam, kang Arman pake peluk Bu Linna lagi, aku yang dekat sana kan sempat potoin mereka, ada kok potonya, nanti ku bagiin ya."

"Mau Bu, jangan bohong ya." Tante Irma rupanya pengen tahu juga.

Aku bukanlah wanita cengeng, dengan pura-pura tidak dengar aku mendekati mereka yang seketika kaget,
"Ada apa sih ibu-ibu, kok seruh banget."

"Ngg..gak apa-apa mbak, cerita sinetron ini," Bu mini menutupi pembicaraan dan permisi pamit.
Aku yang ingin beli sayur jadi baad mood dan lansung pulang.

   Didalam kamar ku lihat kang Arman sudah siap akan berangkat kerja, aku melihat kang Arman dengan rasa jijik dan muak, wajah tanpa dosa, namun biang kerok dosa.
Aku diam saja ketika kang Arman pamit mau kerja.
Mungkin saat itu dinginlah tubuhku dari pada es batu.
Aku terbakar cemburu.
Aku merasa di curangi, tapi akal sehatku berkata, jangan percaya omongan orang.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar