Minggu, 21 November 2021

KABUT DISENYUM HAZIMA bag 3

By. #WS_Lestari

Bagian 3. #Rasa_Ragu

Bangunan kokoh dengan tembok menjulang saksi bisu takdir seorang Inayah. Di sudut kamar yang sepi merajut impian dalam khayal. Melupakan hakikat ke mana jiwa menunduk. Nalar dan nuraninya tertindas nafsu yang membutakan. Cinta sejati tanpa ruh menjerumuskan tanpa daya. Kodratnya menguap bersamaan dengan status yang tanpa dia minta, pengidap gangguan jiwa.

“Ibunya gila, ibunya gila, wek ... wek ... wek. Ayo lari teman-teman ada anaknya orang gila!” Si Gendut menari-nari puas di depan gadis mungil yang berurai air mata.

Zizi termangu memori itu begitu saja melintas. Senyum menghias dalam balut kepiluan. Napas memburu menahan kepedihan seorang diri!

Tangan laki-laki belia membawa tongkat pramuka berjalan gagah. Dengan suara lantang bagai panglima perang menantang musuh di medan perang. Kedua kaki Ammar bersiap dengan kuda-kudanya.

“Hai Gendut sini kalau berani. Laki-laki beraninya sama perempuan. Ayo lawan aku!” Zizi membulatkan mata sembabnya melihat aksi Ammar.

Sekali gertak si gendut Haris lari tunggang langgang. Dia tidak yakin dapat mengalahkan kelincahan Ammar.  Sejak itu Haris hanya berlalu jika bertatap dengan Zizi.

“Terima kasih Kak, Zi tidak berani pulang tadi.”

“Sudah jangan takut! Lihat Haris kabur. Ayo kakak antar pulang!” Tangan mungil itu menurut saja digandeng pelan Ammar.

Perasaan aman menghampiri Zizi, sama seperti berada di dekat Tahmid.
Kenangan manis yang lekat dihatinya. Nyaman dan penuh kasih.  Mungkin juga karena Ammar tidak punya saudara. Kehadiran Zizi yang manis dan lemah, sungguh membuatnya merasa sebagai anak laki-laki yang kuat. Membela kapan saja bila Zizi dalam kepanikan dan ketakutan.

Dihapus titik bening di sudut mata lelahnya. Lembur semalam cukup memaksa raga untuk begadang. Tanggung jawab memang berat. Membangun amanah dengan pelanggan bagian dari ikatan yang berbuah manis. Pelanggan puas dengan pesanannya.

Kaki berbalut sepatu pantofel hitam menyusuri lorong menuju belakang. Gedung dengan penghuni pasien gangguan jiwa ini akrab dengan sosok Zizi. Dulu,  meski ayah berulang kali mengajaknya, tetap saja  hatinya  tidak nyaman. Rasa takut menyelimuti mengingat sikap bunda pada dirinya.

Berangsur Zizi  mulai berdamai dengan takdir meski perih. Trauma lahir batin begitu mengoyak jiwanya.  Kehidupan di pondok pesantren, memberi warna dan nuansa yang kental dengan disiplin, mandiri, berikut ketaatan. Zizi bertahan di tengah-tengah lingkungan yang jauh dari rumah pakdenya. Tanpa ada gapai tangan hangat Tahmid dan Ammar.

Takdir bunda bukan sebuah kesalahan. Allah tidak membiarkan Zi sendiri. Dengan ketulusan keluarga pakde menampungnya.
Semua terjadi ketika putusan ayah pergi ke Lahat menjadi trasmigran. Usaha pak Ilham jatuh bangkrut. Sedang bundanya diam seribu bahasa tampa reaksi.

Tidak mudah Zizi bertahan hidup dengan kelabilan bundanya. Semua karena rasa cinta yang besar kepada ayah tidak diiringi dengan realita. Menjadi bukan yang pertama adalah pilihan bunda sendiri. Cemburu yang salah mencengkeram hati kusutnya.   Bunda ingin menguasai dan memiliki ayah seutuhnya. Memisahkan ibu Arifa dari ayah menjadi obsesi gila yang mengerikan.

Ibu Arifa  dengan jiwa segara yang dimiliki, menerima bunda sebagai madunya. Menganggap bunda seperti adik dan teman. Kemuliaan hati suci ibu Arifa tidak cukup membuat bunda memahami posisinya.

Itulah bunda, hati dan pikirannya tidak sejalan.  Bunda melakukan aksi mogok bicara.  Bersikap aneh dan tidak wajar menjadi pemandangan ayah  setiap datang.

Ya, bunda yang serakah, tidak meyakini  takdirnya bahwa menikah dengan laki-laki yang beristri harus siap diduakan. Sementara ayah sudah berusaha bersikap seadil-adilnya.
Sikap ekstrem bunda di luar batas.  Menjadi konsumtif  tanpa peduli kemampuan ayah. Dengan sabar ayah berusaha memenuhi sebisanya. Pola hidup bunda sebelum menikah yang tergolong royal menjadi pertimbangan ayah.

Nasib memang tidak berpihak pada bunda. Rasa tidak ihklasnya berujung pada jiwa yang kecewa. Bunda sering berhalusinasi tanpa terkendali. Zizi kecil hanya terpana dalam duka. Setiap bunda mengamuk dan marah-marah bocah manis itu menjadi pelampiasannya.

 Tiba-tiba dikunci  di kamar mandi atau diajak berjalan berjam-jam tanpa tujuan.
Zizi tidak bisa menolak atau melawan  sikap tidak wajar itu. Seorang ibu yang menyakiti jiwa raga putrinya. Ayah akhirnya menjaga bunda berbulan-bulan dengan meninggalkan pekerjaannya. Bunda merasa menang, berhasil merebut ayah untuk selamanya!

Setiap awal pasti ada akhir, seperti permainan bunda yang berujung pada hilangnya jiwa.  Lupa dengan semua yang terjadi. Tidak mengenali ayah dan anak semata wayangnya. Zizi murung hilang masa ceria bersama bunda dan ayah.

Kondisi bunda Zizi, bu Inayah yang akrab disapa bu Ina sungguh memprihatinkan. Bagai banteng liar yang terluka. Menyerang tanpa peduli pada siapa. Ayah paling sering menjadi sasaran pukulan.  Dalam kegelisahannya nama ayah tetap di sebut.

“Mas Ilham jangan pergi bersamanya! Tetap di sini bersamaku untuk selamanya ... selamanya.” Tawa berderai yang disusul linangan air mata.

Ya, rumah sakit ini menjadi rumah bu Ina sampai hari ini. Berganti mangsa membawa nalurinya kembali.  Bunda perlahan  mengingat  dan mulai menyadari apa yang diperbuat.

Semahal dan seindah apapun gelas kaca, bila  sudah retak tidak bisa kembali utuh seperti sedia kala. Seahli apapun yang memperbaiki   tidak akan mampu menghapus bukas retak itu.   Begitu pula dengan bu Ina, jika terlalu berat berpikir atau kecapean maka  jiwanya akan mudah terguncang.

 Banyak yang bisa dipetik dari semua itu.  Zizi dengan terseok bisa meredam rasa dan bangkit. Sandaran kepada Rabb-Nya dibangun dengan kepasrahan.

Tampak bunda asyik meronce sebuah gelang di kamarnya. Letak kamar jauh dari pasien rawat yang lain. Sebuah tempat mirip paviliun dipilih ayah untuk bunda. Di sinilah bunda merangkai hidupnya.

Kegiatan harian ini tidak hanya obat baginya tetapi juga menghasilkan rupiah. Dalam kapasitas Dokter Rima sebagai kepala rumah sakit  sudah mempercayakan pekerjaan itu bahkan memberi kesempatan bunda menjadi mentor. Tentu hanya di kalangan pasien penghuni rumah sakit.

Senyum bahagia mengiringi  bibirnya mrngucap salam dan mencium tangan bunda. Zizi menatap lekat perempuan yang mulai beruban itu.

“Bener kamu mau nikah?” tanyanya datar sambil menaruh untain manik-manik.

“Insyaa Allah bun, kemarin pakde dan bude sudah cerita semuanya, kan?”

“Iya, kamu sudah mantap dengan calonmu?” Zizi menjawab dengan anggukan pelan.

“Apa calon mertuamu tidak mempermasalahkan bunda?”

Zizi  memegang kedua tangan bundanya. Berusaha untuk mengurai kekhawatiran di netra cekungnya.

“Mohon doakan untuk kebahagian Zizi ya Bun. Semoga ini yang terbaik menurut Allah.”  Tak disangka sebuah pelukan hangat diterima Zizi. Hal yang jarang dilakukan bundanya.

“Assalamualaikum,” salam dan ketukan pintu dari seorang laki-laki.

“Walaikumussalam, Kak Ammar? Sendiri?” Zizi berdiri menahan rasa herannya.

“Tahmid bilang kamu ke sini. Ya udah terus aku nyusul ke sini. Nggak papa, kan? Mau minta restu calon mertua.” Senyumnya mengembang memberi anggukan ke bunda Zizi.

“Dia calonmu Zi?” tanya bunda menelisik.

“Iya, kenalkan bun namanya Kak Ammar,” dengan takzim Ammar bersalaman.

Zizi menatap dengan doa. Semoga bunda baik-baik saja berkenalan dengan Ammar.

“Bunda, Kak Ammar ini teman Abang sejak kecil.”

“Bunda tahu, kerja apa dia?”

“Tanya sama orangnya saja kan, ada di depan Bunda.” Zizi berusaha mencairkan suasana.

Tidak berapa lama keduanya terlibat pembicaraan yang formal. Kalimat bunda terkesan seperti menginterogasi. Untung Ammar terbiasa menghadapi orang, sehingga suasana tetap nyaman.

“Nak Ammar, maaf sebelumnya. Apa ada niatan untuk masnah?”

“Bunda?” Zizi terkejut memegang lengan bundanya. Ammar terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat.

“Kenapa diam? Biasanya kalau diam jawabannya iya lo.”

“Bunda bisa saja, tapi maaf Bunda, menikah saja belum apalagi memikirkan masnah.” Jawaban Ammar terkesan diplomatis.

“Bunda tanyanya aneh-aneh. Sekarang fokus ke kesehatan Bunda saja. Pada acara akad nikah biar bisa hadir,” redam Zizi. Hatinya cemas melihat perubahan sikap bundanya.

“Zi, suruh calonmu keluar saja! Bunda pusing banget ini. Aduh, sakit sekali.”

“Bunda tenang! Zi panggilkan suster. Nanti hilang pusingnya.”

Ammar berusaha ikut menolong menuntun bunda ke ranjang. Mata sayu itu mendadak melirik menatap Ammar nanar. Didorongnya tubuh tegap itu dengan sekuat tenaga. Ammar yang tidak siap hanya terkejut dan merasakan tubuhnya terdoron sekian jengkal.

Dalam sekejab barang-barang di ruangan itu beterbangan. Teriakan bunda pecah mengusir Ammar.

“Sabar Bunda, maafkan saya kalau salah bicara,” bujuk Ammar lagi.

“Pergi! Pergi aku nggak mau melihatmu! Pergi bersamanya, jangan hiraukan lagi!”

“Kakak tolong pergilah! Bunda tidak bisa diajak bicara," pinta Zizi dengan  wajah cemas.

Sebuah vas bunga dilempar ke arah Ammar dan hampir mengenai kepalanya. Menyadari dalam keadaan tidak aman, Ammar memutuskan keluar. Keringat membasahi keningnya, jantungpun berdetak kencang. Tidak mengira akan reaksi bunda yang berlebih.

Dua orang suster yang bertugas datang dan membantu Zizi menenangkan bundanya. Sebuah suntikan menghentikan perlawanan bunda. Sebentar kemudian tubuh lemah itu terkulai dan memejamkan mata.

Zizi mengusap butiran bening yang luruh. Rasa sedih menyelimuti gadis berhati tegar itu. Iba melihat bundanya yang terguncang lagi demi melihat Ammar!

“Sus, apa bunda akhir-akhir ini sering lembur?”

“Saya lihat tiga hari ini sering tidur sampai larut. Hasil gelangnya juga lebih banyak. Katanya ingin belikan kado untuk mbak Zi.” Ungkap perawat bertag  Rina itu.

“Terima kasih Suster,  semoga setelah sadar ibu sudah membaik.”

“Iya mbak, ibu kecapaian. Mungkin mikir mbak Zi mau menikah juga. Beliau sempat cerita sama saya. Katanya takut mbak Zi menikah  dengan laki-laki yang salah.”

“Pantas saja tadi bunda terlihat serius dan sedikit gelisah.” Zizi mengerti perasaan bundanya.

 “ Oh ya, selamat ya Mbak! Semoga acaranya lancar dan menjadi keluarga samawa.” Suster satunya yang lebih senior memberi ucapan selamat, suster Kamila.

“Aamiin, terima kasih. Saya nitip bunda ya Sus, kalau sudah siuman tolong wa saja nanti!”

“Siap Mbak jangan khawatir.”

Zizi melangkah keluar setelah mencium kening bundanya. Berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk.

*

Ammar menatap gawai tak pasti. Wajah tegang tidak bisa disembunyikan. Sesekali menghela napas berusaha menormalkan irama jantungnya.

“Kakak masih di sini?” suara Zizi membuat netranya menoleh. Ammar hanya mengangguk berusaha sewajar mungkin.

Gadis manis itu mengambil posisi di ujung bangku tempat Ammar duduk. Taman di samping pintu masuk rumah sakit mulai teduh. Keduanya terdiam untuk sesaat.

“Kak, maaf atas sikap bunda tadi. Pasti kakak kaget,” Zizi menghela napas, lanjutnya. “Masih ada dua pekan Kak.”

“Iya kakak tadi agak terkejut. Tetapi maksudmu apa masih dua pekan Zi?”

“Tolong Kakak pertimbangkan lagi. Zi tidak bermaksud apa-apa. Jika ini membebani Kakak, apa tidak sebaiknya Kakak membatalkan lamaran ini. Maaf kalau salah bicara.” Zizi tidak berani menatap Ammar,  ditahannya agar tidak terisak lagi.

“Zizi, Zizi. Alhamdulillah kakak bukan tipe seperti itu. Tidak ada yang membebani dan terbebani. Sikap bunda hal yang  sangat wajar. Beliau menyayangi anaknya, makanya dia ingin melindungimu. Zi, Apa kamu lupa waktu di kedai kopi itu? Dengan bismillah kakak meminangmu,” urai Ammar ringan.

Hatinya tersentuh dengan sikap Zizi yang mengkhawatirkan bundanya. Bukan mencari kesenangan sendiri. Kini bertambah yakin telah memilih Zizi untuk menemani  sisa hidupnya.

Angin menerbangkan daun-daun kering. Semilirnya menambah syahdu hati yang hendak berpaut. Ingin rasanya memberi sandaran pada Zizi agar hatinya tenang. Ammar menunggu reaksi dari Zizi yang hanya menatap lurus.

“Zi, katakan yang kamu rasakan! Siapa tahu kakak bisa bantu.”

“Entahlah, Zizi merasa sedikit ada keraguan Kak. Tidak mudah menerima kondisi bunda. Daripada semua ikut menanggung lebih baik sampai di sini saja. Zi memikirkan keluarga dan kerjaan Kakak. Kita tidak bisa menutup mata bahwa di sebagian masyarakat kondisi bunda adalah aib.” Suara Zizi tercekat. Sakit untuk  melanjutkan.

“Buang rasa ragu itu. Sedikit atau banyak ragu berasal dari setan. Melamahkan keyakinan kita. Zi paham, kan?”

“Ini menyangkut banyak hal Kak. Tolong mengerti! Iya, Zi percaya Kakak tidak demikian.”
“Syukurlah, yang penting Zi percaya sama Kakak. Itu saja!  Tidak peduli apa kata mereka. Allah meridhai niatan dan tujuan kita menikah. Selesai, apa lagi?”

“Sempat terlintas dalam pikiran Zi kalau ada yang mencemooh Kakak dan keluarga. Zi rasanya tidak bisa menerima Kak. Akibat sikap bunda banyak orang yang menanggung bebannya.” Gadis berjilbab hijau lumut itu tertunduk lagi.

Tangannya mengepal meremas ujung baju. Dadanya terasa sesak, bayangan menakutkan yang hampir pupus mengemuka lagi. Takut melukai hati orang-orang yang menyayanginya.

“Zi, tolong jangan diperpanjang lagi. Bukankah lebih baik kita banyak mendekat pada Allah? Agar acara nanti diberi kelancaran. Kalau sikap Kakak tadi tidak mengenakkan tolong dimaafkan, ya!” Dengan nada lembut Ammar berusaha menetralkan keraguan di hati Zizi.

Kembali hanya alam yang berbicara. Bertasbih dengan cara mereka. Memberi penghormatan dan rasa syukur pada yang Kuasa. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang telah menempati tugasnya masing-masing.

Semburat jingga mulai menunjukkan kecantikkannya meski hanya dalam hitungan menit. Menatapnya memberi rasa harap.

 Perjalanan kala berganti dengan sang gelap. Malam gulita yang menenangkan jiwa. Mentaddaburinya bahwa hidup berada di dua sisi yang terus mengikuti. Suka dan tidak suka bila Allah SWT telah berkehendak tidak ada yang bisa menolaknya.

Dengan berprasangka baik kepada Rabbul alamiin menumbuhkan sikap yakin akan takdir yang menyambut.

Ammar berdiri mendekat. Zizi bergeming tidak menyadari Ammar sudah di depannya. Laki-laki itu jongkok membuat Zizi tersadar dan memundurkan tubuhnya.

“Hampir magrib Zi. Tidak baik banyak melamun hemm ...Kamu mau balik apa tetap di sini?”

“Eh, iya Kak. Zi mau di sini dulu menemani bunda. Kalau kemalaman nanti nginap di sini saja,” terang Zi datar.

Tetiba jantungnya berdesir dengan jarak Ammar yang  dekat. Dia memastikan mukanya sudah berubah warna.

“Ya udah kakak pulang. Jangan lupa besok sore ibuku ingin bertemu. Mau berangkat sendiri atau dijemput.”

“Sendiri saja Kak. Sekali jalan antar pesanan dekat situ.” Zi berdiri mengikuti langkah Ammar menuju ke parkiran.

Mengingat akan bertemu ibu Ammar tak urung Zizi sport jantung juga. Banyak cerita kesan pertama calon mertua menentukan hubungan selanjutnya.

Kenapa aku terpengaruh. Biarlah yang terjadi besok terjadilah

“Zi santai saja! Ibu kakak baik kok, nggak galak. Pas lamaran sempat ngobrol nggak?”

Ammar menangkap wajah tegang Zizi setelah mendengar ibunya disebut. Zizi hanya membalas dengan senyum dan anggukan. Percuma menyangkalnya. Mobil siap untuk mundur dan berbelok ke arah jalan raya.

“Kakak pulang ya! Jaga diri, jangan kecapean dan banyak pikiran. Semoga bunda juga lekas membaik.”

“Aamiin. Terima kasih Kak. Hati-hati nyopirnya dan salam buat ibu kalau nggak lupa.” sebuah lambaian dan senyum manis mengantar pajero hitam itu.

Ammar merasakan bias hangat yang menenangkan. Jika sudah saatnya akan dia pupuk benih yang muncul dihati.  Bukankah memang seharusnya demikian?

Zizi menatap laju mobil sampai menghilang berbelok. Masih ada satu pekerjaan rumah yang belum usai. Menyiapkan diri sebaik-baiknya bertemu ibu Ammar. Minimal siap secara mental. Bagaimana jika besok terlihat gugup atau salting? Ah,  Ini tentu sangat tidak menyenangkan.

Dukungan Ammar membuat perasaan khawatirnya terurai.  Zizi mengarahkan kaki ke kamar bundanya. Wa suster sudah masuk sepuluh menit lalu. 

Bag. 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar