Rahasia Mertua.
POV Ibu Arman
🏵️🏵️🏵️
Prolog :
Tak ada manusia yang tidak mempunyai masa lalu, namun semua manusia berhak mempunyai masa depan.
********
Aku ibu mertua Murni, tepatnya Ibunya Arman, umurku 65 tahun, cucuku ada 8 anakku empat, tiga laki-laki satu perempuan, namun yang satu sudah kuberikan sama seorang tetangga yang waktu itu kami masih sangat melarat dan hidup sensara, waktu itu Karman, anak tertua ku berumur lima tahun. Aku titipkan ke mereka karena mereka pegawai Negri, suami istri sudah nikah sepuluh tahun belum juga dapat anak. Pertimbangan ku waktu itu jangan sampai anakku tidak bisa sekolah dan aku tak mau anakku hidup sengsara.
Waktu itu kami menyewah dikontrakkan suami istri itu, suamiku yang pekerja kasar di pelabuhan sebagai kuli bongkar muat meninggal karena sesak nafas, pulang dari membongkar barang di pelabuhan.
Dia meninggalkan dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan, yang pertama bernama Karman Sanjaya dan yang kedua wanita bernama Sri Maryati.
Waktu suamiku meninggal aku sangat shok, anak-anakku yang aku pikirkan, takut nanti anak-anakku tidak bisa sekolah dan mereka jadi orang melarat seperti kami.
Empat bulan aku bertahan dikota, menjadi pembantu dirumah suami istri itu, namun waktu itu ayahku dikampung memanggilku pulang , katanya Ibu ku sakit tidak ada yang mengurus beliau.
Aku pamit, kepada mereka, namun mereka menahan Karman yang mereka panggil Darmawan.
Aku sedih harus berpisah dengan Karman anakku, tapi demi kebaikan Karman aku iklas, termasuk ketika mereka bilang akan mengadopsi anakku dan aku boleh datang melihat anakku dengan syarat jangan bilang kalau aku adalah ibu Karman.
Dan aku pun pulang dengan dibekali oleh mereka dengan bekal untuk ongkos pulang dan sedikit bekal, waktu itu tahun 1975 an. Dan aku pulang ke kampungku berdua dengan anakku Sri Maryati.
Dan hari berganti, bulan berlalu ,sudah lima tahun kemudian aku menikah lagi dengan seorang laki-laki petani, yang sangat menyayangi anakku Maryati.
Tak berapa lama lahirlah Arman, dan menyusul dua tahun kemudian , lahirlah adiknya Wisnu.
Waktu itu Karman sudah SMA ,aku benar-benar rindu sama anakku, dan akupun pergi ke kota untuk melihat dan melepas rindu pada Karman, anakku sudah bujangan, tampan umur 18 tahunan dan dia memanggil aku bibi, tak mengapa bagiku, yang penting sekarang dia sudah sekolah tinggi.
Dan kata Mbak Tini, ibu angkatnya Karman alias Darmawan akan masuk sekolah tinggi ekonomi, nanti dia bisa jadi menejer di perusahaan, aku sebagai ibu sangat lah merasa bangga, karena anakku akan jadi orang yang sukses.
Pikiran ku kembali ke masalalu , menerawang
Tiba waktunya Karman mau menikah, ibu Tini mengundang aku dan menjemput aku dikampungku .
Di saat akan menikah itulah, Bu Tini membuka rahasia kalau Karman alias Darmawan adalah bukan anak kandungnya, tetapi anak kandungku, dan Karman bersimpuh dikaki ku sambil memeluk tubuh kurus ku dan kami pun berziarah ke kuburan ayahnya di pemakaman dekat sana.
Darmawan menikah dengan anak seorang pengusaha tekstil yang cantik dan mereka berdua mengelolah perusahaan itu.
Ternyata setelah mereka mengadopsi Karman, kedua suami istri tadipun mendapatkan anak,yang aku tidak tahu nama mereka.
Melihat kebahagian Karman, aku sebagai ibu, tidak menuntut apapun dari anakku yang diasuh orang lain, mendengar dia sudah bahagia saja aku sudah sangat bahagia dan merasa beruntung telah melahirkan seorang anak yang cerdas.
Waktu mereka menikah aku ikut menghadiri pesta mewah disalah satu Hotel ternama di Jakarta.
Dan Karman yang berganti nama Darmawan benar-benar mirip dengan Arman anakku suami Murni ini, Arman seorang anak yang Sholeh, bapaknya suamiku yang kedua meninggal karena sakit jantung.
Sejak saat itu aku ikut Arman yang baru saja dipecat di perusahaannya , karena perusahaan pailit.
Untuk menyambung hidup mereka berdagang kuliner di salah satu lapangan kuliner.
Kami bisa hidup tenang, karena sebagai istri Murni adalah wanita yang rajin dan cekatan, sampai mereka akhirnya mendapat rejeki yang berlimpah. Dan kehidupan mereka naik 380 derajat.
Namun Murni tetap baik tak berubah, seorang istri yang baik.
Namun beberapa bulan ini Murni, agak berubah sering aku lihat dia merenung sendiri dan mengurung diri, sedangkan anakku Arman semakin sibuk dengan urusan perusahaan yang dikelolanya.
Aku ingin bertanya namun aku takut, takut nanti ikut campur urusan rumah tangga mereka.
Tadi pagi Murni pergi sendiri dengan memakai pakaian tidur yang belum diganti dan hanya pakai hijab seadanya, sekarang sudah hampir jam dua siang belum pulang juga , aku merasa tidak enak, ada apa ini, apakah ini ada hubungan dengan si Arman? , entahlah, aku hanya bisa berdoa semoga anak menantuku sehat-sehat saja.
******
POV Murni.
Dirumah sakit.
Bu Linna meneruskan ceritanya.
"Kang Arman mengalami kecelakaan karena jatuh dari tingkat dua, kepalanya mengalami pendarahan hebat , dan tangannya patah."
Polisi datang dan para pendemo pun lari, namun sempat terekam di cctv siapa dalang yang menggerakkan mereka."
Aku terdiam, aku hanya melihat hembusan nafas kang Arman yang belum teratur, walau kang Arman sudah bisa melihat diriku , namun kang Arman belum mengenal aku ,munkin otak kang Arman belum berjalan maksimal, hingga memorinya belum pulih.
Aku mengelus kening kang Arman, dan mencium pipinya yang masih dingin.
Aku menangis ,aku tak ingin kang Arman pergi meninggalkan aku dan anak-anak.
Perawat datang kembali memeriksa kang Arman,
"Bu, pasien boleh ditinggal kan, karena dokter mau memeriksa nya kembali ,sekarang sudah jam dua siang".
"Oh ya suster, kami permisi", Bu Linna menggamit tanganku.
"Dek Mur, sebaiknya kita pulang dulu, biar pak Holil disini, nanti kita kesini lagi untuk jam besuk pukul lima nanti."
"Ya Bu, saya juga belum ganti baju, anak-anak juga bentar lagi pulang sekolah, saya mengucapkan terima kasih sama Bu Linna sudah mengurus kang Arman disini."
Aku mengulurkan tangan bersalaman dengan Bu Linna, dan mencium pipinya, walau aku sangat curiga, kenapa harus Bu Linna sendiri yang mengawasi pengobatan Kang Arman, kenapa dia tidak menyuruh stafnya yang lain mengurus kang Arman, entahlah sebagian sudah terjawab.
Aku memacu mobil, melewati jalan yang semakin padat karena jam pulang sekolah.
Sepanjang jalan aku berdoa semoga suamiku cepat sembuh dan menceritakan misteri kehidupan kami, tanpa harus ada yang ditutupi.
Karena sebagai wanita aku punya filing dan sebagai manusia aku diberi insting.
Aku telah bertekad, seburuk apapun nanti cerita dan pengakuan kang Arman aku akan menerima.
Bersambung.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar